Daripada 2987 orang wakil Kongres Rakyat Kebangsaan China yang sedang menyertai sidang di Beijing, Maliya Mati adalah perwakilan yang paling jauh datang ke ibu negara. Beliau bertolak dari kampung halamannya di daerah autonomi Kirgiz Kezilesu Wilayah Autonomi Uygur Xinjiang untuk menyertai sidang itu dengan menaiki bas dan kapal terbang. Perjalanannya sejauh lebih 5000 kilometer.
Beliau merupakan satu-satunya wakil etnik Kirgiz yang menyertai Kongres Rakyat Kebangsaan China. Etnik Kirgiz merupakan salah satu daripada 10 etnik yang beragama Islam di China. Etnik itu tinggal di Dataran Tinggi Pamir, dengan penduduk mencatat lebih 160 ribu orang. Menurut Undang-undang Pemilihan China, etnik Kirgiz layak mengemukakan seorang wakil untuk menyertai sidang tersebut, dan Maliya, yang berumur 37 tahun terpilih menyandang jawatan tersebut.
Setelah bersarapan pagi, Maliya Mati segera bersiap untuk menyampaikan ucapan dalam sidang itu. Beliau dengan penuh yakin melangkah masuk ke dewan persidangan
Dalam umur yang masih muda, Maliya Mati sudah lama menyandang jawatan sebagai Wakil Kongres Rakyat Kebangsaan China. Pada tahun 2003, ketika baru berumur 32 tahun, beliau merupakan seorang pegawai peringkat kampung, semasa dilantik menyandang jawatan itu.
Sempena Hari Wanita Sedunia tahun 2006, Perdana Menteri Wen Jiabao mengziarahi delegasi Xinjiang yang menyertai Kongres Rakyat Kebangsaan ke-10. Setelah mendengar ucapan daripada lebih 10 orang wakil, Wen Jiabao memberi cadangan agar salah seorang pegawai peringkat kampung dijemput untuk menyampaikan ucapan. Setelah membaca senarai nama delegasi itu, Wen Jiabao menyebut nama Maliya Mati. Maliya merasa amat gembira dan terharu mendapat peluang yang begitu berharga. Beliau berkata: "Saya mengambil peluang itu dan memberi cadangan kepada Perdana Menteri Wen Jiabao untuk menyediakan jaminan kehidupan asas kepada kaum tani dan kaum nomad di kawasan terpencil seperti juga penduduk di bandar dan pekan. Beliau telah menerima cadangan itu dan memasukannya ke dalam laporan kerja kerajaan tahun kemudiannya. Menurut laporan kerja tersebut, sistem jaminan kehidupan asas akan dikuatkuasakan di seluruh kawasan desa China."
Kampung halaman Maliya Mati turut menjadi kawasan yang paling awal menikmati sistem tersebut. Kini, sistem itu telah diperkenalkan di bahagian tengah dan barat China. Tidak lama lagi, sistem itu akan diperkenalkan ke seluruh kawasan desa.
Bermula pada tahun 2003 hingga tahun 2007, Maliya Mati telah mengemukakan lebih 50 cadangan kepada Kongres Rakyat Kebangsaan China. Badan kerajaan yang terlibat dalam cadangan beliau sedang berusaha bersungguh-sungguh menangani cadangan tersebut. Selain itu, beliau telah secara langsung mengemukakan 7 buah cadangan kepada pemimpin negara, 4 daripadanya telah diselesaikan. Maliya seorang yang dedikasi dan cemerlang semasa menyandang jawatan wakil Kongres Rakyat Kebangsaan berturut-turut selama 5 tahun. Pada tahun ini, beliau sekali lagi dipilih menyandang jawatan tersebut.
Agenda Maliya Mati pada hari ini amat padat. Beliau akan menyertai perbincangan delegasi Wilayah Autonomi Uygur Xinjiang pada waktu pagi dan sidang pleno delegasi itu untuk membahas laporan kerja kerajaan pada waktu petang. Pada waktu malam, Maliya Mati akan mengadakan perbincangan dengan wakil pelbagai delegasi yang lain agar mendapat persetujuan 30 orang ahli untuk menurunkan tanda tangan pada cadangannya, lagi dikemukakan kepada Kongres Rakyat Kebangsaan.
Sebagai seorang pegawai wanita etnik minoriti, Maliya Mati memberi cadangan kepada kerajaan supaya memberi perhatian yang lebih untuk melahirkan lebih ramai pegawai di kalangan etnik minoriti, khususnya pegawai wanita. Beliau berkata: "Pegawai etnik minoriti, khususnya wanita etnik sangat kurang di kampung halaman saya. Kerajaan dirahap berusaha melahirkan pegawai etnik minoriti yang berpendidikan tinggi, agar mereka mengetuai kaum tani dan kaum nomad supaya bekerja rajin dan mencipta masa depan yang lebih cerah."
Maliya berkata, dalam tempoh 5 tahun akan datang, beliau akan menjalankan tugasnya dengan baik sebagai wakil Kongres Rakyat Kebangsaan dan memberi sumbangan yang lebih besar terhadap pembangunan negara dan etnik. Katanya: "Saya amat gembira dengan tugas saya untuk mengemukakan masalah kehidupan rakyat kepada pemimpin tertinggi supaya menarik perhatian mereka lalu menyelesaikan masalah tersebut. Kerja saya dapat membantu rakan-rakan sekampung untuk mengatasi kemiskinan dan menikmati kehidupan lebih selesa pada masa depan.
Penulis:Andika
Read more...
Minggu, 07 Februari 2010
Maliya Mati, Wakil Kongres Rakyat Kebangsaan China Etnik Kirgiz dari Dataran Tinggi Pamir
Makanan Muslim di Jalan Niujie Beijing
Selain kaya akan bangunan-bangunan bersejarah sekaligus gedung-gedung pencakar langit, Beijing juga kaya dalam hal makanan. Di kota kebudayaan ini, Anda dapat menemukan aneka ragam kudapan yang sudah bersejarah lama. Di antaranya adalah kudapan muslim Beijing yang kebanyakan berbentuk kue dan makanan olahan daging sapi dan kambing.
Bila Anda ingin mencicipi kudapan muslim khas Beijing dengan cita rasa asli, Anda harus mengunjungi Jalan Niujie yakni daerah permukiman Muslim di bagian selatan Kota Beijing. Nah, saudara pendengar, sekarang mari kita berjalan-jalan sejenak di Jalan Niujie untuk mengenal lebih lanjut kudapan Muslim Beijing.
Pada adab ke-14, saat orang Muslim dari Arab dan Persia berimigrasi ke Tiongkok, makanan Muslim mulai ikut tersebar di Beijing. Seiring dengan berjalannya waktu, makanan Muslim itu berbaur dengan makanan tradisional Tiongkok, sehingga terciptalah makanan Muslim khas Beijing. Hingga sekarang, kudapan Muslim laris manis di Beijing. Jalan Niujie merupakan salah satu tempat pemukiman Muslim yang utama di Beijing sekaligus kampung halaman kudapan Muslim Beijing.
Keluar dari Stasiun Kereta Bawah Tanah Changchunjie, Anda cukup menelusuri sebuah jalan lulus hingga melewati sebuah perempatan, dan tibalah Anda di Jalan Niujie. Toko Nailaowei yang terkenal di Beijing terletak di Jalan Niujie. Toko ini tidak besar, tapi meja dan kursi tradisional di dalamnya kental akan ciri khas Beijing Kuno. Isteri pemilik toko Nailaowei, Li Shumin mengatakan, tokonya merupakan salah satu toko susu beku yang paling terkenal di Beijing.
Li Shumin mengatakan: "Nailaowei didirikan pada tahun 1888 dan beroperasi hingga tahun 1954. Pada tahun 1988, penerus generasi ke-3 Nailaowei, Wei Guanglu mulai memulihkan operasi Toko Nailaowei. Toko Nailaowei di Jalan Niujie sekarang ini dijalani oleh Wei Ning, generasi ke-4 Nailaowei."
Li Shumin mengatakan, pendiri Nailaowei, Wei Hongcheng belajar cara pembuatan susu beku dari temannya yang bekerja di dapur Kaisar. Susu beku di Beijing berbeda dengan susu beku yang ada di Barat. Cara pembuatan susu beku Beijing adalah sebagai berikut: susu segar ditetesi arak beras yang cara pembuatannya adalah rahasia. Setelah susu segar itu menyerupai jeli, susu itu kemudian dipanggang dan akhirnya dibekukan dalam lemari es. Susu beku Beijing mempunyai beberapa rasa, tapi yang paling populer ialah susu beku istana tradisional.
Toko Kudapan Hongji yang terletak di sebelah timur Jalan Niujie tidak bersejarah lama seperti Toko Nailaowei, tapi memiliki popularitas yang cukup bagus di Beijing. Salah satu konsumen yang sedang mengantri di depan Toko Kudapan Hongji mengatakan bahwa dirinya sering datang membeli kudapan di toko ini, yang katanya sangat ramai dan biasanya harus mengantri.
"Kudapan di toko ini sangat lezat, karena itu saya sering datang beli."
Toko Kudapan Hongji memiliki variasi kudapan, antara lain kue, Huoshao, daging sapi rebus, sup jeroan kambing dan lain-lain. Selain menawarkan beraneka ragam kudapan, citarasa yang khas dari kudapan Toko Kudapan Hongji berhasil menyedot banyak pelanggan.
Saat berada di Jalan Niujie, Anda jangan lupa mampir ke Restoran Baodufeng, karena bila tidak Anda akan sangat menyesal tidak mencicipi makanan khas restoran ini. "Baodu" ialah lambung sapi atau kambing yang diiris dan direbus dalam air mendidih, dan setelah itu diberi bumbu. Pendiri Baodufeng, Feng Lishan mulai menjual masakan irisan lambung sapi atau kambing di Houmenqiao Beijing pada tahun 1875. Makanan saktinya itu akhirnya digemari oleh bangsawan dan tokoh-tokoh terkenal. Feng Qiusheng, penerus Baodufeng generasi ke-4 mengatakan bahwa pengalaman paling membanggakan untuknya ialah pernah diundang ke dapur Wisma Negara Diaoyutai yang merupakan hotel khusus untuk kepala negara asing pada Hari Nasional Tiongkok ke-50.
Dikatakan oleh Feng Qiusheng: "Pada tahun 1999, yakni genap 50 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, kami diundang memasak Baodu yaitu irisan lambung sapi atau kambing rebusan untuk para pemimpin negara atau utusan berbagai negara di Wisma Negara Diaoyutai. Saya merasa sangat bangga karena masakan kami dicicipi oleh tamu agung negara pada Hari Nasional Tiongkok ke-50."
Apabila Anda tidak mempunyai banyak waktu dan susah melacak keberadaan makanan khas Muslim di gang-gang Jalan Niujie, lebih baik Anda mengunjungi Restoran Muslim Niujie di lantai dua Supermaket Muslim Niujie. Disitu banyak terdapat stan-stan makanan Muslim Niujie bersejarah lama serta makanan lezat Muslim khas daerah Tiongkok lainnya. Direktur Utama Supermaket Muslim Niujie, Ping Guodong mengatakan: "Di Restoran Muslim Niujie terdapat makanan Muslim yang lezat dari Daerah Niujie dan bagian utara Tiongkok. Di antaranya adalah Nailaowei atau susu beku Beijing, kue-kue dan lain sebagainya."
Pada hari raya agama Islam atau seusai menjalankan ibadah shalat di Masjid Niujie, Restoran Masakan Muslim Niujie selalu dibanjiri kaum Muslimin. Sampai-sampai mereka terpaksa membatasi jumlah konsumen. Direktur Utama Restoran Muslim Niujie, Ping Guodong mengatakan, restorannya sering kedatangan Muslim asing dan dia yakin restorannya akan kedatangan lebih banyak Muslim asing selama masa Olimpiade Beijing.
"Kami sudah siap menyambut para tamu Muslim asing dari seluruh dunia selama Olimpiade. Kami akan menyediakan masakan lezat dengan harga terjangkau agar selera para tamu dapat terpenuhi."
Read more...
Makanan Halal yang Lazat di Kawasan Niujie Beijing
Makanan ringan tradisional di Beijing amat pelbagai dan diwarisi secara turun temurun. Demikian juga makanan halal untuk penduduk Islam China. Makanan halal yang mengutamakan kuih-muih serta masakan daging lembu dan kambing merupakan bahagian yang penting dalam makanan tradisional di Beijing. Makanan halal di kawasan Niujie, iaitu kawasan kediaman secara berkelompok bagi penganut Islam merupakan makanan halal yang paling terkenal dan asli di Beijing.
Pada abad ke-14, sejumlah besar orang Arab dan Parsi telah berhijrah ke China. Mereka membawa bersama jenis makanan diperkenalkan ke Beijing sebagai makanan halal untuk orang Islam. Lama-kelamaan, jenis makanan dari Asia Barat tersebut telah menerima perubahan dengan beberapa cara masakan tradisional China dan menjadi makanan halal yang unik dan lazat di Beijing. Kawasan Niujie merupakan pusat penempatan penduduk Islam di Beijing dan juga merupakan tempat asal bagi makanan halal di bandar tersebut.
Gerai "Nailao Wei" di kawasan Niujie sudah wujud lebih seratus tahun dan merupakan gerai terkemuka di Beijing. Rakyat China menyebut "Nailao" sebagai keju China. Bentuk "Nailao" seperti puding. Pengurus gerai itu, Li Shufeng berkata: "Gerai itu ditubuhkan pada tahun 1888 dan ditutup pada tahun 1954. pada tahun 1988, Wei Guanglu, pengurus generasi ketiga membuka semula gerai tersebut."
Penaja gerai itu, Wei Hongchen mempelajari kaedah untuk memasak "Nailao" daripada kaum kerabatnya yang berkhidmat sebagai tukang masak Diraja. Makanan Nailao yang disediakan oleh gerai "Nailao Wei" mendapat sambutan yang baik daripada penduduk Beijing, Malah, ramai yang datang dari jauh ke gerai itu semata-mata untuk menikmati pencuci mulut yang lazat itu. Kata Li Shumin, "Gerai kami menjual kira-kira seribu mangkuk 'Nailao" pada tiap-tiap hari. Gerai kami dibuka pada pukul 2:00 petang dan tutup pada pukul 9:00 malam. Kadang-kadang, jika pelanggan terlalu ramai, gerai kami tutup pada pukul 11:00 dan 12:00 malam." Kedai Makanan Hongji di bahagian timur kawasan Niujie amat terkenal di Beijing. Selalunya terdapat ramai pelanggan berbaris di depan pintu kedai tersebut untuk membeli makanan. Seorang pelanggan berkata: "Makanan di kedai ini amat lazat. Kami selalu membeli makanan di kedai ini."
Makanan yang disediakan oleh Kedai Makanan Hongji amat pelbagai termasuk beberapa jenis "Nian Gao"(iaitu sejenis kuih), "Huo Shao"(sejenis roti) serta masakan daging lembu dan daging kambing. Pengurus kedai itu, Hong Yuchun berkata: "Pada mula-mula diwujudkan, kedai kami kecil sahaja dan hanya menyediakan beberapa jenis pencuci mulut. Kami berusaha menjamin kualiti bahan makanan dan memasak makanan dengan sebaik mungkin. Lama-kelamaan, kedai kami semakin terkenal, dan jenis makanannya kian bertambah."
Restoran "Baodu Feng" juga merupakan restoran Islam yang terkenal di kawasan Niujie. Makanan "Baodu" menggunakan perut kambing dan lembu yang diiris, kemudian direbus enak dan dimakan dengan sos yang berkenaan. Pengasas restoran tersebut, Feng Lishan, mula menjual makanan tersebut pada tahun 1875. Terdapat ramai tokoh yang tersohor meminati makanan tersebut termasuk seniman Opera Peking, Mei Lanfang, pujangga Lu Xun dan Laoshe. Pengurus generasi keempat restoran itu, Feng Qiusheng pernah memasak makanan tersebut untuk pemimpin negara dan duta besar negara asing ketika China menyambut ulang tahun ke-50 hari kebangsaan. Katanya, "Ketika menyambut ulang tahun ke-50 hari kebangsaan, saya bertugas memasak "Baodu" untuk pemimpin negara dan duta besar negara asing ke China. Saya amat gembira kerana pencuci mulut tersebut dapat masuk dalam senarai jamuan negara."
Pasaran Raya Islam Niujie menubuhkan sebuah pusat makanan halal yang menyediakan berbagai-bagai makanan halal dari seluruh negara. Pengurus pasar raya itu, Ping Guodong berkata: "Pusat makanan halal kami menyediakan makanan yang lazat dari kawasan Niujie dan beberapa tempat di bahagian utara China."
Pusat makanan tersebut telah mendapat sambutan yang baik daripada penganut Islam di kawasan Niujie dan seluruh Beijing. Setelah selesai menunaikan solat Jumaat di Masjid Niujie berhampiran, iaitu masjid yang tertua di Beijing, mereka selalu makan beramai-ramai di pusat makanan tersebut. Semasa sedang makan itu, selalunya terdapat warga emas yang secara sukarela membacakan terjemahan kitab suci al-Quran kepada orang muda di pusat tersebut. Ketika menyambut hari kebesaran Islam, pusat makanan itu dibanjiri dengan penganut Islam. Ping Guodong menyatakan terdapat ramai penganut Islam dari luar negara menikmati makanan halal yang lazat di pusat tersebut. Beliau berharap ramai penganut Islam dari luar negara menjamu selera di pusat tersebut ketika berlangsungnya Sukan Olimpik. Katanya, "Pusat makanan halal Niujie telah siap untuk meraikan saudara Islam dari seluruh dunia ketika Sukan Olimpik diadakan di Beijing. Kami akan berusaha menyediakan makanan halal China yang lazat untuk mereka."
Penulis:Andika
Read more...
Islam di Laos
Laos dikenal sebagai salah satu Negara dengan sistem pemerintahan komunis yang tersisa di dunia dengan mayoritas penduduknya merupakan pemeluk Budha Theravada. Tak heran kalau Laos merupakan negara dengan penduduk Muslim paling sedikit di Asia Tenggara.
Agama Islam pertama kali masuk Laos melalui para pedagang Cina dari Yunnan. Para saudagar Cina ini bukan hanya membawa dagangannya ke Laos, namun juga ke negara tetangganya seperti Thailand dan Birma. Oleh masyarakat Laos dan Thailand, para pedagang asal Cina ini dikenal dengan nama Chin Haw.
Peninggalan kaum Chin Haw yang ada hingga hari ini adalah: beberapa kelompok kecil komunitas Muslim yang tingal di dataran tinggi dan perbukitan. Mereka menyuplai kebutuhan pokok masyarakat perkotaan. Di sini, mereka memiliki masjid besar kebanggaan. Letaknya di ruas jalan yang terletak di belakang pusat air mancur Nam Phui. Masjid ini dibangun dengan gaya neo-Moghul dengan ciri khas berupa menara gaya Oriental.
Masjid ini juga dilengkapi pengeras suara untuk adzan. Ornamen lain adalah tulisan-tulisan di dalam masjid ini ditulis dalam lima bahasa, yaitu Arab, Tamil, Lao, Urdu, dan Inggris. Selain kelompok Muslim Chin Haw, ada lagi kehadiran kelompok Muslim lainnya di Laos yaitu komunitas Tamil dari selatan India. Muslim Tamil dikenal dengan nama Labai di Madras dan sebagai Chulia di Malaysia dan Phuket. Mereka masuk Vientiane melalui Saigon yang masjidnya memiliki kemiripan dengan masjid mereka di Tamil.
Para jamaah Muslim India Selatan inilah yang mendominasi masjid di Vientiane. Meski demikian, masjid ini juga banyak dikunjungi jamaah Muslim dari berbagai negara. Jamaah tetap di masjid ini termasuk para diplomat dari negara Muslim di Vientiane, termasuk dari Malaysia, Indonesia, dan Palestina.
Laos merupakan salah satu negara yang kaya dengan keberagaman etnis. Setengah populasinya yang mencapai empat setengah juta orang berasal dari etnis Lao atau yang dikenal masyarakat lokalnya sebagai Lao Lum. Selain mendominasi dari segi jumlah penduduk, mereka juga mendominasi pemerintahan dan komunitas masyarakatnya.
Mereka yang berasal dari etnis ini memiliki kedekatan kekerabatan dengan penduduk kawasan timur laut Thailand. Mereka berasal dari dataran rendah Mekong yang hidup mendominasi di Vientiane dan Luang Prabang. Secara tradisional, mereka juga mendominasi pemerintahan dan masyarakat Laos.
Sebagian besar berbisnis
Saat ini, sebagian besar Muslim di Vientiane merupakan pebisnis. Mereka berjaya di bidang tekstil, ekspor-impor, atau melayani komunitas mereka sendiri dengan menjadi penjual daging atau pemilik restoran halal.
Beberapa restoran terletak di kawasan Taj off Man Tha Hurat Road, dan dua atau tiga restoran halal lainnya berdiri di persimpangan jalan Phonxay dan Nong Bon Roads. Selain melayani komunitas Muslim, mereka juga menyediakan jasa katering bagi petugas kedutaan yang beragama Islam. Sisanya, para pekerja Muslim lokal di Vientiane bekerja di bagian tesktil di berbagai pasar di kota ini, seperti di Talat Sao atau pasar pagi, di persimpangan jalan Lan Xang, dan Khu Vieng.
Kelompok ini merupakan orang-orang yang percaya diri, ramah dan giat bekerja, meski mereka berbicara bahasa Inggris tidak sebanyak mereka yang berasal dari Asia Selatan. Setiap pertanyaan dalam bahasa Inggris yang tidak dimengerti akan mereka jawab dengan kalimat bo hu, atau "saya tidak mengerti" dalam bahasa Laos.
Selain bekerja di industri tekstil, banyak Muslim Laos yang bekerja sebagai penjual daging. Ini mengingat kebutuhan makanan yang sangat spesifik dari komunitas Muslim, yaitu penyembelihan secara Islam. Untuk membedakan kios daging mereka dari kios daging lain yang menjual daging babi, para penjual yang beragam Islam memasang lambang bulan sabit atau tanda dalam bahasa Arab.
Tanda ini menunjukkan, selain pemiliknya Muslim, mereka juga menyediakan hanya daging halal. Maklum saja, sebagai minoritas, sangat sulit bagi mereka untuk menemukan makanan yang dijamin kehalalannya. Daging yang biasa dipasarkan adalah daging babi.
Selain di Vientiane, ada lagi komunitas Muslim lainnya di Laos. Namun mereka berjumlah lebih sedikit dan memutuskan tinggal di kota kecil di luar Vientiane. Sebagian orang menyatakan ada sebuah masjid kecil di Sayaburi, di tepi barat Mekong tidak jauh dari Nan. Sayaburi dulu pernah dinyatakan sebagai daerah tertutup bagi orang asing.
Pengungsi dari Kamboja
Muslim Laos didominasi oleh para pendatang dari kawasan Asia Selatan dan juga Muslim Kamboja. Khusus untuk Muslim Kamboja, mereka dalah para pengungsi dari rezim Khmer berkuasa. Mereka melarikan diri ke Negara tetangga mereka, Laos, setelah pemimpin rezim Pol Pot menyerukan gerakan pembersihan masal etnis Kamboja Cham Muslim dari tanah Kamboja.
Sebagai pengungsi, kehidupan mereka terbilang miskin. Selain itu mereka mengalami trauma akibat pengalaman hidup di bawah tekanan Khmer sejak 1975. Semua masjid di Kamboja dihancurkan. Mreka juga dilarang untuk beribadah atau berbicara dalam bahasa Kamboja dan banyak di antara mereka dipaksa untuk memelihara babi.
Sejarah pahit mengiringi kepergian Muslim Kamboja ke Laos. Mata imam masjid Kamboja di Vientiane, Musa Abu Bakar, berlinang air mata ketika menceritakan kematian seluruh anggota keluarganya dari kelaparan. Mereka dipaksa makan rumput, sementara satu-satunya daging yang mereka dapatkan dari tentara Khmer hanyalah daging babi, yang diharamkan oleh Islam.
Beberapa orang Kamboja, seperti mereka yang di Vientiane, kemudian melarikan diri dari kampung halamannya. Sementara sisanya berhasil bertahan dengan cara menyembunyikan identitas etnis mereka dan juga keislamannya. Dari suluruh populasi Muslim Kamboja, diperkirakan tujuh puluh persennya tewas akibat kelaparan dan pembantaian.
Kini di Laos diperkirakan ada sekitar 200 orang Muslim Kamboja. Mereka memiliki masjid sendiri yang bernama Masjid Azhar atau yang oleh masyarakat lokal dikenal dengan nama Masjid Kamboja. Masjid ini berlokasi di sebuah sudut di distrik Chantaburi, Vientiane.
Meski berjumlah sangat sedikit dan tergolong miskin, mereka teguh memegang agama. Umumnya, mereka adalah penganut mahzab Syafii, berbeda dengan komunitas Muslim Asia Selatan di Vientiane yang menganut mazhab Hanafi. ( Republika Online / n uli )
Read more...
Laksamana Cheng Ho
Timur Tengah, India, dan China. Dari tiga wilayah ini, Islam disebarkan di Indonesia. Sayang, belum banyak karya tulis yang mengupas secara detail peran penting komunitas China muslim dalam penyebaran Islam di Indonesia. Hanya peninggalan purbakala Islam di Indonesia yang dipengaruhi budaya China yang menjadi bukti kehadiran mereka.
Oleh: M Subchan S
Ditinjau dari aspek politik-budaya, Indonesia adalah sebuah negeri berpenduduk mayoritas muslim dengan anatomi yang pelik. Selain memiliki beragam suku, negeri ini juga terdiri dari bermacam agama dan aliran kepercayaan.
Demikian disampaikan Prof Dr Ayu Sutarto MA dari Universitas Jember dalam seminar internasional Budaya Islam Nusantara-Tiongkok di kantor PWNU Jatim, Selasa (27/5).
Hadir pula pembicara lain yakni Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Islam China Amu’er Zhang Guanglin, dan Wakil Presiden Institut Islam China Esa Gao Zhanfu. Menilik dari jumlah agama yang berkembang, lanjut Sutarto, sering muncul kesan jika negeri ini merupakan bangunan politik yang menampung berbagai agama di dunia.
Dia mencontohkan sejarah kebudayaan Indonesia yang sangat menarik. Ketika agama Budha masuk, Candi Borobudur mewarnai peradaban yang dibangunnya. Hindu masuk, Prambanan menjadi ikon keimanan umat Hindu. Islam masuk, masjid dan musala dibangun sebagai wahana pemeluknya untuk membangun jaringan dakwah. Belanda masuk, gereja didirikan.
Terkait penyebaran Islam yang akhirnya dipeluk sebagian besar masyarakat Indonesia, menurut Ketua Tanfidiyah PW NU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah, itu karena dilakukan dengan mengedepankan proses dialog, perdagangan, pertukaran seni dan budaya serta keluhuran moral.
“Saya tidak ingin terjebak soal teori tentang asal-usul penyebar Islam di Indonesia. Paling tidak, di antara para sejarawan terdapat tiga teori tentang hal ini. Dibawa oleh pendatang dari Yunan, China, langsung dari Mekkah dan Gujarat, India,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Namun, tambah Hasan, hal yang jelas adalah pendatang dari tiga wilayah berbeda ini memiliki andil besar dalam proses penyebaran Islam di Indonesia. Tak mengherankan bila budaya para pendatang muslim dari Timur Tengah, China dan India menjadi bagian tak terpisahkan dari cara hidup penduduk Indonesia.
“Yang jelas Islam berkembang lebih dulu di China dibanding di Indonesia,” ujar pengasuh ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo itu.
Sutarto berpendapat hampir sama. Selama ini, ujar dia, sejarah masuknya Islam ke Indonesia masih didominasi dua kesimpulan yang masih bisa diperdebatkan. Pertama, Islam dibawa para pedagang dari Arab atau Timur Tengah. Kedua, Islam datang dari India.
Dia mengungkapkan, para sejarawan umumnya melupakan komunitas China muslim yang juga ikut andil dalam perkembangan Islam di Indonesia, utamanya di Jawa. Sejauh ini, imbuh dia, belum ada satu karya ilmiah yang membahas secara rinci sumbangan China muslim terhadap syiar Islam di Indonesia.
Ini beda dengan kajian soal sejarah politik China muslim. Seperti dipaparkan Hasan, penelitian tentang sejarah politik China muslim sudah banyak. Misalnya tulisan De Graaf, Pigeaud, Riclefs, Poortman, Tom Pires, Parlindungan, Djajadiningrat, dan Slamet Mulyana. Sumber-sumber lain juga bisa ditemukan di buku Babat Tanah Jawi dan Babat Melayu.
Minimnya karya ilmiah soal penyebaran Islam oleh China muslim membuat sejarawan sulit memperkirakan awal perkembangan China muslim di Indonesia. Meski begitu, banyak bukti sejarah berupa benda-benda arkeologis dan antropologis yang berhubungan dengan kebudayaan China.
“Melihat bukti-bukti sejarah itu menunjukkan jika kontak budaya antara China dengan Indonesia sudah berlangsung berabad-abad,” tukas Sutarto.
Dia menyebutkan ukiran padas di masjid kuno Mantingan, Jepara; menara masjid di Pecinan Banten; kontruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik; arsitektur keraton dan Taman Sunyaragi di Cirebon, konstruksi masjid Demak terutama soko tatal pada salah satu tiang penyangga masjid serta lambang kura-kura.
Bukti lain, kata dia, adalah dua masjid megah di Jakarta. Yaitu masjid Kali Angke yang dikaitkan dengan Gouw Tjay dan masjid Kebun Jeruk yang didirikan oleh Tamien Dosol Seeng dan Nyonya Cai. Cerita lisan Dampu Awang yang tersebar di masyarakat pesisir utara Jawa juga menunjukkan pengaruh itu.
Soal soko tatal pada tiang masjid Demak, menurut Hasan, terinspirasi oleh model susunan pada konstruksi jung atau kapal-kapal besar China zaman dulu yang dibuat dari patahan-patahan kayu. Model ini memiliki tingkat kelenturan yang baik sehingga sangat kuat menghadapi terpaan angin dan ombak.
Sutarto menerangkan, beberapa pemerhati kebudayaan berpendapat bahwa kehadiran muslim China bukan hanya berasal dari imingran muslim asal China. Tapi juga dari hubungan internal etnik China, antara China muslim dan non muslim. Semula, kedatangan etnis China ke Indonesia bertujuan untuk unjuk eksistensi dan kepentingan ekonomi. Bukan untuk menyebarkan agama Islam. Umumnya, mereka berasal dari Zhangzhou, Quanzhou, dan Guangdong.
“Meski begitu, kehadiran mereka berdampak besar pada perkembangan Islam di Indonesia,” tukasnya.
Misalnya saja, muhibah Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) ke Indonesia pada abad 15. Maksud awal muhibah itu adalah untuk membangun hubungan antara China dengan negara-negara di Asia dan Afrika. Tetapi, beberapa anak buah Cheng Hoo tercatat sebagai muslim. Sebut saja Ma Huan, Guo Chong Lie, Ha San Shban, dan Pu He Ri. Dua nama yang disebut pertama mahir berbahasa Arab dan Persia serta bekerja sebagai penerjemah. Adapun Ha San adalah ulama masjid Yang Shi di Kota Ki An. Dalam kurun 1421-1431 Masehi, rombongan Cheng Hoo singgah di Jawa, Palembang, Aceh, Batak, Kalimantan, Pulau Karimata, Pulau Belitong dan lainnya.
Perjumpaan Cheng Hoo dengan etnis Jawa, tutur Sutarto, melahirkan apa yang disebut Sino-Javanese Muslims Cultures atau kebudayaan Cina-Jawa-Muslim. Kebudayaan ini terbentang dari Banten, Semarang, Demak, Jepara sampai Surabaya pada abad 15-16..
“Argumentasi ini bukan hanya merujuk pada laporan Ma Huan tetapi juga oleh beberapa pengembara asing lain seperti De Baros dari Portugis, Loedwieks dari Belanda dan Ibmu Battuta,” tandasnya.
Penyebaran Islam oleh China muslim terus berkembang hingga berdirinya organisasi dakwah bernama Persatuan Islam Tionghoa (PIT) pada tahun 1931 di Deli Serdang, Sumatera Utara. Pendirinya adalah Haji Yap Siong dari Moyen, China. Dia berdakwah mulai Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Jawa Timur dengan bahasa Mandarin.
Di tahun 1953, Kho Goan Tjin mendirikan organisasi dakwah bernama Persatuan Muslim Tionghoa (PMT) di Jakarta. pada tahuun 1954, dua organisasi ini dilebur. Dalam perjalanannya, organisasi ini bubar karena berbeda pandangan jelang Pemilu tahun 1955. Lantas pada 14 April 1961, atas prakarsa H Isa Idris dari Pusat Rohani TNI AD mendirikan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di Jakarta. PITI kala itu merupakan gabungan PMT dan PIT. Pendiri PITI antara lain Abdul Karim Oei, Tjeng Hien, Abdusomad Yap A Siong, dan Kho Goan Tjin.
Sampai sekarang, PITI masih aktif mempersatukan muslim China dengan muslim Indonesia serta muslim China dengan etnis China dan etnik China dengan Indonesia asli. Bagi Sutarto, keberadaan China muslim sesungguhnya cukup strategis dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang multikultural dan hidup dalam harmoni.
“Dalam konteks ini, PITI dapat berperan dan memberi kontribusi berarti untuk memenuhi cita-cita itu,” pungkasnya.
Serupa Tapi Tak Sama
Penyebaran Islam di Indonesia dan China memiliki beberapa kemiripan. Utamanya adalah penyebar ajaran Islam. Bila di Indonesia, Islam disebarkan oleh pedagang dari Timur Tengah, India dan China maka di China, Islam hanya disebarkan oleh pedagang asal Timur Tengah. Khususnya dari Arab dan Persia.
Menurut Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Islam China, Amu’er Zhang Guanglin, Islam masuk ke Tiongkok pada abad ke-7 sampai abad ke-16.
“Merekalah yang paling awal membawa masuk isi dan bentuk agama Islam ke China. Jumlahnya ratusan ribu,” ujarnya.
Ketika singgah, lanjut dia, otomatis mereka memerlukan tempat untuk menunaikan salah satu rukun Islam yaitu salat. Untuk itu, para pedagang Arab dan Persia itu mulai membangun masjid-masjid di tempat mereka berada terutama di pesisir laut. Tepatnya di wilayah Beijing sampai Hangzhou. Di dua wilayah itu mereka membangun masjid Huashengsi (Rindu Nabi) di Guangzhou, Fenghuangsi (Phoenix) di Hangzhou, Shengyousi (Sahabat Nabi) di Quanzhou, Xianhesi (Bangau Putih) di Yangzhou dan lainnya.
Tak sedikit pedagang Arab dan Persia yang memutuskan menetap. Mereka membawa kebudayaan sendiri yang berbasis pada rukun Islam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lambat laun, gaya hidup Islam itu mempengaruhi budaya tradisional dan kepercayaan masyarakat di berbagai kota di China.
Wakil Presiden Institut Islam China Esa Gao Zhanfu menambahkan, penyebaran Islam selama seribu tahun itu telah menjangkau 10 suku minoritas di China. Antara lain, suku Hui, Uygur, Kazak, Dongxiang, Kirgiz, Salar, Tarjik, Ozbek, Bao’an, dan Tartar.
Esa menerangkan, penyebaran Islam di China disampaikan dengan cara damai tanpa pertumpahan darah. Pemerintah pusat dan dinasti-dinasti zaman dulu telah menerapkan kebijakan untuk mengutamakan sikap toleransi terhadap agama Islam. Bahkan, sejak berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober 1949, suku-suku minoritas pemeluk Islam mendapatkan hak yang sama.
“Ini membangkitkan antusiasme masyarakat muslim di China untuk cinta negara dan agama,” tuturnya.
Saat ini, lanjut dia, China telah memiliki 43.000 imam, 35.000 masjid, 10 institut agama Islam, ratusan sekolah Bahasa Arab dan kebudayaan Islam. (29 Mei 2008 )
Read more...
Kitab Suci Al-Quran Tulisan Tangan yang Paling Bersejarah di China Telah Dirawat
Di Kaunti Autonomi Etnik Salar Xunhua Provinsi Qinghai di bahagian barat China, terdapat kitab al-Quran tulisan tangan yang paling lama di China. Oleh sebab sejarahnya terlalu lama, maka tulisan yang terdapat pada kitab al-Quran itu telah kurang jelas. Tidak lama dahulu, kitab al-Quran itu telah berjaya dirawat oleh pakar China.
Kaunti Autonomi Etnik Salar Xunhua merupakan kawasan kediaman secara berkelompok bagi penduduk etnik Salar. Jumlah penduduk etnik Salar di kawasan tersebut mencapai 700 ribu hingga 800 ribu orang, mereka amat taat akan agama Islam.
Menurut riwayat, pada lebih 700 tahun dahulu, nenek moyang penduduk etnik Salar telah berhijrah dari kawasan Asia Tengah. Semasa melalui kawasan Xunhua, mereka telah menyaksikan bahawa tanah di kawasan itu agak datar, air sungainya amat jernih dan hutan di sana juga agak hijau. Lantas apabila mereka telah tiba di sebuah mata air, air mata air itu sangat sedap rasanya. Unta yang dibawa oleh mereka telah berehat di sebelah mata air itu. Tiba-tiba, bonggol unta tersebut telah menjadi batu putih, terdapat sebuah kitab al-Quran yang terletak di atas batu putih tersebut. Nenek moyang penduduk etnik Salar itu berasa sangat terharu, mereka memutuskan untuk mendiami di kawasan itu.
Kitab Al-Quran yang disimpan di Xunhua tersebut termasuk 2 buah kitab yang setiap satunya mengandungi 30 juzuk. Kulit kitab tersebut diperbuat daripada kulit badak sumbu dan dilukis dengan gambar yang cantik. Kitab al-Quran itu mengandungi 867 helai dan ditulis dalam tulisan Arab. Kitab al-Quran tersebut seberat lebih 12 kilogram.
Pada tahun lalu, kumpulan pakar China telah mengadakan kajian tentang kitab al-Quran tulisan tangan tersebut. Menurut keputusan kajian, kitab al-Quran itu telah ditulis pada abad ke-8 hingga abad ke-13 dan merupakan kitab al-Quran yang bersejarah paling lama di China. Pakar adat resam etnik Salar provinsi Qinghai, Encik Han Zhanxiang menyatakan bahawa kitab al-Quran tersebut mempunyai kedudukan yang amat suci dalam dunia Islam. Beliau berkata: "Terdapat 3 buah kitab al-Quran seperti itu di seluruh dunia dan masing-masing disimpan di Rusia, Britain dan China. Kitab al-Quran yang mewakili seluruh umat Islam China tersebut telah dipamerkan di Pameran kitab Suci Islam Sedunia yang diadakan di Syria pada tahun 1954. Pada tahun 1962, kitab al-Quran itu telah dipamerkan di Iran."
Oleh sebab kitab al-Quran itu telah bersejarah lebih 700 tahun. Kertasnya telah rosak atau digigit oleh umat. Kulit kitab tersebut yang diperbuat daripada kulit badak sumbu telah menjadi keras dan pecah. Kebanyakan tulisan dalam kitab itu telah menjadi kabur.
Kerajaan China telah memberi perhatian yang tinggi untuk melindungi kitab al-Quran tersebut. Jabatan Artifak Budaya Negara China telah memperuntukkan 1.5 juta yuan RMB untuk melindungi kitab al-Quran tersebut. Baru-baru ini, pakar artifak China, Encik Xi Sancai telah mengetuai beberapa orang pakar daripada Muzium Nanjing merawat kitab al-Quran tersebut. Encik Xi Sancai berkata: "Oleh sebab kitab al-Quran itu sangat berharga, kami pernah bekerja dengan amat berhati-hati dan dengan sedaya upaya cuba memelihara bentuk asalnya."
Oleh sebab hubungan antara kitab al-Quran itu dengan penduduk etnik Salar agak rapat, maka kerajaan China telah memutuskan untuk menyimpan kitab al-Quran itu di tempat asalnya. Pengarah Jabatan Agama kaunti Xunhua, Encik He Yunzhong berkata:
"Hubungan antara sejarah etnik Salar dengan kitab al-Quran itu sangat rapat. Kitab al-Quran itu telah menjadi bahagian yang penting bagi penduduk etnik Salar. Kitab al-Quran itu disimpan di tempat kami untuk menjaga perasaan penduduk etnik Salar."
Pada masa sekarang, kitab al-Quran yang telah dirawat tersebut disimpan dalam Muzium Al-Quran di kaunti autonomi etnik Salar Xunhua provinsi Qinghai yang baru selesai dibina. Kitab al-Quran itu disimpan di dalam sebuah peti keselamatan yang diperbuat daripada kaca untuk membolehkan umat Islam menyaksikannya. Selain itu, pakar-pakar China akan secara berterusan merawat kitab al-Quran tersebut serta menggunakan teknologi yang maju untukmembuat salinan sebuah kitab al-Quran itu.
Encik Xi Sancai berpendapat bahawa projek merawat kitab al-Quran tersebut telah memainkan peranan yang penting untuk mengkaji sejarah dan asal usul etnik Salar serta kajian tentang kebudayaan masyarakat Islam di seluruh dunia. Beliau berkata: "Perlindungan kitab al-Quran tersebut akan memainkan peranan yang penting bagi mengkaji sejarah, proses penghijrahan, agama dan kebudayaan etnik Salar."
Selain itu, perawatan kitab al-Quran itu menandakan bahawa penduduk etnik Salar akan mewarisi budaya tradisionalnya.
Penulis: Andika
Read more...
Peranan Masjid di Beijing
Pertama, masjid di Beijing merupakan ruang pendidikan untuk umat Islam.
Encik Hu Dengzhou yang berasal dari Xianyang, Provinsi Shaanxi merupakan penaja pendidikan masjid di China. Pada penghujung zaman Dinasti Ming dan awal Dinasti Qing, pendidikan dalam masjid telah mula berkembang pesat di Beijing. Pendidikan di masjid dibahagikan kepada 3 peringkat, iaitu sekolah rendah, sekolah menengah dan universiti. Ulama dan imam masjid berkhidmat sebagai guru dan pensyarah. Penginapan, makanan dan yuran persekolahan penuntut tersebut ditanggung oleh pihak masjid.
Setelah memasuki zaman moden, sekolah di masjid telah menyediakan kurikulum seperti bahasa Mandarin, bahasa Inggeris, matematik, sejarah, geografi dan lain-lain serta menyampaikan buku teks bahasa Arab. Masjid di Beijing telah menjadi ruang kepada umat Islam untuk mempelajari ilmu agama Islam serta ilmu zaman moden. Ahli pendidikan yang terkenal di China, Encik Wang Haoran, Wang Youhe dan Da Pusheng telah menubuhkan Sekolah Perguruan Hui di Masjid Niujie, iaitu masjid yang tertua di Beijing yang dibina pada tahun 1907 dan sekolah rendah Islam di Masjid Lorong Shoupa pada tahun 1907. Pada tahun 1929, Sekolah Perguruan Chengda yang ditubuhkan oleh Ma Songting telah dipindahkan dari Jinan, Provinsi Shandong ke Masjid Dongsipailou. Sebelum Republik Rakyat China (PRC) ditubuhkan, masjid di Beijing merupakan ruang kepada remaja Islam untuk menimba ilmu dalam pelbagai bidang. Masjid di Beijing telah mendidik ramai imam. Pada tahun 1949, Institut Etnik Hui Beijing telah ditubuhkan. Hal tersebut melambangkan bahawa pendidikan Islam yang moden telah dibentuk secara rasmi di Beijing.
Kedua, masjid di Beijing telah memainkan peranan yang penting untuk mengembangkan ekonomi umat Islam.
Pada zaman dahulu, sumber pembiayaan untuk masjid hanyalah bergantung kepada sedekah daripada umat Islam. Pihak masjid akan mengumumkan jumlah sedekah daripada pelbagai umat Islam di ruang masjid. Setelah China mengamalkan dasar pembaharuan dan buka pintu, pelbagai masjid di Beijing telah berusaha mengembangkan ekonomi. Masjid-masjid di Beijing telah membuka hotel Islam, restoran Islam, kedai barang-barang keperluan hidup umat Islam, tadika, perusahaan dan lain-lain. Misalnya, Masjid Dongsi di Beijing telah membuka kedai daging halal dan kedai barang-barang Islam. Masjid Niujie yang tertua di Beijing telah membuka kedai barang-barang keperluan Islam. Masjid Mendougou telah membuka restoran Islam. Masjid Shijinfang telah membuka restoran Islam, hotel Islam dan kedai barang-barang Islam. Masjid Dewai telah membuka kedai daging kambing dan lembu halal, tadika Islam dan kedai barang-barang Islam. Persatuan Islam Daerah Xicheng telah menubuhkan barisan pembinaan. Kebanyakan masjid daripada lebih 60 buah masjid di Beijing telah menubuhkan perusahaan sendiri. Pembiayaan masjid bukanlah hanya bergantung kepada sedekah daripada umat Islam dan peruntukan daripada kerajaan. Selain itu, perusahaan yang ditubuhkan oleh masjid di Beijing telah menyediakan peluang pekerjaan kepada umat Islam. Masjid-masjid tersebut telah menggunakan pendapatan daripada perusahaannya untuk mengembangkan agama Islam serta membantu orang yang hidup susah. Masjid-masjid di Beijing telah memainkan peranan yang penting untuk mengembangkan ekonomi umat Islam.
Ketiga, masjid di Beijing merupakan jambatan persahabatan antara umat Islam China dengan umat Islam di seberang laut.
Masjid-masjid di Beijing bukan sahaja merupakan rumah kepada umat Islam pelbagai etnik di China, namun juga merupakan rumah kepada umat Islam dari pelbagai negara di dunia.
Beijing merupakan metropolitan yang amat terkenal di dunia. Terdapat ramai umat Islam dari pelbagai negara asing belajar dan bekerja di Beijing. Mereka selalu menyertai pelbagai aktiviti keagamaan yang diadakan oleh umat Islam Beijing. Selain itu, Beijing mempunyai beberapa buah masjid yang terkenal di seluruh dunia. Masjid-masjid tersebut telah menjadi pusat pertukaran antara umat Islam China dengan umat Islam negara asing. Masjid Niujie dan Masjid Dongsi merupakan dua buah masjid yang paling terkenal di Beijing. Kedua-dua buah masjid tersebut selalunya menerima kunjungan umat Islam dari negara luar. Berdasarkan statistik daripada Persatuan Islam Beijing, pada tahun 1979 hingga tahun 1989, masjid-masjid di Beijing telah menerima kunjungan seramai 100 ribu orang umat Islam dari pelbagai negara. Terdapat 22 ribu orang umat Islam dari dalam dan luar negara menunaikan solat berjemaah sempena hari kebesaran Islam. Statistik tersebut telah menunjukkan bahawa masjid-masjid di Beijing telah menjadi pusat pertukaran antara umat Islam dari dalam dan luar negara.
Dan Keempat, masjid-masjid di Beijing menjadi pembawa dan pembentuk kebudayaan dari dalam dan luar negara China.
Pembudayaan masjid di Beijing mempunyai kepelbagaian, termasuk agama, adat resam, makanan dan minuman, hasil sains dan teknologi, seni bina, peninggalan sejarah, kesenian tulisan, pendidikan dan lain-lain. Masjid-masjid di Beijing telah menggabungkan kebudayaan dari dalam dan luar negara. Misalnya, terdapat sejenis komponen pembinaan bangunan di masjid Beijing, bentuknya seperti kepala naga, namun tidak terdapat ukiran mata pada benda tersebut. Ini kerana masjid-masjid di Beijing telah mewarisi seni bina tradisional China seperti menggunakan patung binatang. Namun menurut syariat Islam, tidak boleh terdapat patung binatang di dalam masjid. Itulah sebabnya patung itu tidak diukirkan mata dan dianggap bukan sebagai patung binatang yang sebenar.
Terdapat juga banyak kitab al-Quran tulisan tangan bersejarah yang ditulis dengan menggunakan dua jenis bahasa, iaitu bahasa Mandarin dan bahasa Arab disimpan dalam masjid-masjid di Beijing. Misalnya, terdapat sebuah kitab al-Quran tulisan tangan yang telah bersejarah lebih 700 tahun disimpan di Masjid Dongsi Beijing. Oleh sebab itu, masjid-masjid di Beijing telah menjadi pembawa dan pembentuk kebudayaan dari dalam dan luar negara China.
Pembudayaan masjid di Beijing amat meluas dan penuh kepelbagaian. Pembudayaan tersebut melibatkan bidang agama, politik, ekonomi, pendidikan, seni bina, kesenian, kebudayaan, seni tulisan, sistem masyarakat, cara hidup dan lain-lain. Pada masa sekarang, pembudayaan masjid di Beijing berkembang dengan lebih pesat.
Penulis:Andika
Read more...